Wednesday, 27 July 2011

fiuuh...

heeey...it's been a moment...since i've written my latest scratches..
yeah..I ruined the novelist ambition thing...

hem..
however...still got sooooo many things to share these late months..
from those darkest days of college I had...the death of my fav teacher..
disaster of boyfriend..and elses...

today...am goin back from graveyards of probs...
expecting sweet welcoming arms from ****...but...shame..I was totally disapointed.
I arrived at my office door by afternoon...missing him so damly much...but hey..he remain in silence..
I smiled bitterly sweetened to him...called him over but hi didn't even put a glance on me...shooooooooo!!!
Then at afterhour-time, he asked me if I wanted to go home together...I said yes..but he suddenly gone...searched all over the office..but then..I saw his shoes in front of the Mosque..
I thought...he was prayin'..
So...as far as our relationship is hidden...I waited at the toilet...and after the prayer is over...I searched for him...but then...he wasn't there..

I text him...
he said:'if you mind going home with me...fine...just don't hide away from me...'
"@.@
I WAS AT THE TOILET!!!!!
WAITING FOR YOU!!!",
I screamed at the phone..

he said..."don't LIE!"

OK......he had just mentioned the thing I truly despite...
I AM NOT A LIAR!!!!

and now...I am sitting in the corner of my room...moaning those words out of my heart...

shit....he did a very good job in hurting me...
which it was a BAD SIGN

au revoir...
let me get some ice on eyes..

Thursday, 8 April 2010

Panda 01


Aku dapet temen baru!!! Itu berkah yang kudapetin sebulan ini. Temen baru ini ga begitu unik sih,...cuma dia WANGI. Ahahahaha....aku dikenalin sama dia lewat Russel..um...Facebook Russel tepatnya. Maklum, orangnya pemalu...-rodo ragu-; tapi terkenal suka nraktir<--salahkan Russel! Tadinya berniat mengenalnya by web saja...geheheeh...secoro orangnya pendiem anjrooot, tapi apa boleh buat, aku akhirnya ketemu jugak.

"Dpn Old Changkee ya!" Itu smsnya ke Indra, my partner in crime. Kita udah mondar-mandir gajelas disitu setengah jaman, diselingi beberapa sms dari masnya yang isinya: "Lagi pipis..", "Masih di Old Changkee kan?"....howoooh....agak bosan jadinya...-_____-

Akhirnya si Om--Indra manggilnya gitu- pun tibaa!!! Menaiki sebuah eskalator (ini skalatis ya)...dan tersenyum-senyum aneh. "Eh ame....", sambil cengengesan n salaman. "Huuuuuuuuu....." aku n Indra kompak bete. "Mau beli Old Changkee aaaah..."si Om ngomong dengan tampang ga da dosak. "Mm...gajadi.." kembali mengeluarkan ekspresi yang sama setelah kami berdua bulak-balik ngikutin dia. "Aku lupa blum ambil duit...ehehehe"... '3'...jadilah kita nemenin dia ngambil ATM (ini juga masi pake nyasar).

Bis ngambil ATM trus tiba-tiba "Aduh laper...." lagi-lagi balik ke Old Changkee beli 3 tusuk gorengan berchabay...ahahaha...tapi enak ko. Trus...Indra n si Om mau sholat...aku yang lagi libur kepekso nunggu di Musholla cewe (yang kedua kalinya n diliatin mbak-mbak yang nunggu Musholla...T.T. Truus...mereka ngajakin maem ("yang ini maem besar , Mek!" kata Indra sambil kedip-kedip gajelas).

Nyampe di foodcourt, si Om mesen Salmon pake french-fries (gayak bener), aku sih sukanya pake baked-potato (ahaha...sama ding nggaya juga), Indra pake Meshed potato. Wes...kita duduk di meja no 01. Si om mulai mengeluhkan mata hitam-lebay-nya...otomatis...aku n Indra sibuk bilang dia ber-lebay-an. "Kamu tu lucu e, Mas...koyok Panda...ahahaha"<---rayuan abis ditraktir. Trus dengan ekspresi sok imut iya ngangkat nomer meja..."Aku panda 01"...mm....ungkapan yang...aneh..ahaha.

Well, above all, aku menghargainya sebagai seorang teman yang sangat menyayangi teman-temannya, gak ada kecualinya, sama si Mbak-mbak jahat itu pun masi ngebela-belain...huh!! Aku jadi tau itu gara-gara dia ngomel setelah kunyatakan dia somse dsb karna ga bales YMku. Ihihihihi....but it worth the meaning ko...makasi ya mas...a number 01 lesson from Panda number 01.

Great to be a friend of you!

Novelist....

Setiap kali aku melakukan Latihan yang ada dalam buku berjudul Belajar pada Sastrawan Dunia, aku tak bisa mengelak dari sebuah kenyataan: aku suka sekali menulis. Aku tak pernah bisa menghentikan-jari-jariku mengetikkan kata-kata yang melayang-layang di kepalaku.

Setiap kali aku ingin mennghentikannya untuk mendapatkan sebuah artikel pendek yang diminta Mr. Josip...aku tak mampu. Ingin sekali membatasi diri, tapi apa ini takdirku menjadi seorang novelis?

Semogaaa saja...ahahahahaha...

Thursday, 1 April 2010

Latihan DUAk: mencari sumber cerita fiksi dari pengamatan sederhana

Inspirasi untuk latihan kedua ini kuambil masih dari tempat yang sama dengan Latihan1. Berlawanan arah dengan arah pandanganku pada latihan pertama, kali ini aku menoleh ke kanan. Dihadapanku ada dua orang yang seperti kakak adik sedang memesan sushi. Kulihat adiknya menurut saja pada kakaknya yang dengan cekatan memilihkan menu menuruti seleranya kepada si pelayan yang kemudian mengantarkan makanan itu dengan perilaku-mirip-orang-Jepang. Si adik pun terlihat sedikit tertekan memandangi piringnya yang dipenuhi daging mentah (sushi). Again…please read and enjoy!


Aku berderap lalu-lalang dihadapan sebuah papan reklame bertuliskan “Sushimu Setiap Saat”. Sesekali aku menjuntaikan kepalaku ke arah jalan, dan kuimbangi dengan lirikan kea rah jam tanganku. “Wiga terlambat …..lagi!” Aku lalu bersandar pada dinding restoran itu. Punggungku membeku, seperti lengket pada batu bata merah yang tersusun rapih itu.


Bruuuk….terdengar suara keras dari arah jalan. Semua orang pun menoleh ke arah itu. “Wiga!! Kamu kenapa?”, jeritku sesak setengah berlari. Aku membantunya berdiri. “Tak apa kok, Ka, rodanya rusak sedikit. Besok aku akan membawanya ke tukang reparasi.” Sapa Wiga gemetaran. “ Maaf, kau lagi-lagi menunggu yah? Um..balasannya kutraktir 1 putaran Sushi-Bang untukmu!” timpalnya cepat. “Tapi autopad-mu?”, jawabku sambil mengangkat autopad kesayangan Wiga itu. “Tinggalkan saja di luar Ka, tak ada yang akan mengambilnya. Yuk, aku lapar!”, ajak Wiga dengan penuh semangat.


“Irasshaimasse!”, ujar pelayan yang bertengger di depan pintu dan memandangi kami dengan sedikit takjub. “Ya…bien sur! Ahahahhaha!”, jawab Wiga sembarang sembari mendorong punggungku mengingatkan untuk membalas salam kehormatan khas orang Jepang itu. Kami dihantarkan masuk lebih dalam ke sebuah ruangan yang remang-remang. Cahaya yang terlihat sekedar ambient dari lampu yang disembunyikan di balik plafond. Melihat cantiknya langit-langit itu, aku pun tertarik untuk melihat ke lantai. Dan, wow, lantainya diberi taburan kerikil yang diatur selayaknya taman khas Jepang. Aku pun tak bisa membayangkan wajah si kontraktor ketika melihat rincian biaya yang harus dikeluarkannya untuk mem-finishing restoran yang terilang tak terlalu besar itu.


“Hey, apa yang kau lakukan disitu, Meika. Kerjamu hanya memandangi dan mengetuk-ngetuk material saja. Dasar arsitek!” ujarnya gusar sambil menyeret tangan kiriku untuk masuk ke bilik makan kami. Bilik itu cukup nyaman, besarnya kemungkinan sebesar toilet standart, ada tempat duduk berlapis tatami disitu. “Hentikan pandangan-resah-material mu itu, Ka! Ayo kita makan!”


Chirashizushi 2 ya” ujar Wiga pada pelayan yang tiba-tiba saja sudah berdiri di dekatku. “Haik!” jawab pelayan itu dengan sangat bersemangat. “Kurasa aku ingin mencoba Ebifurai-Maki setelah ini”, usulku malu-malu. “Um…iya…nanti…” jawab Wiga tak yakin. Pelayan yang kami tunggu selama 20 menit pun akhirnya dating membawa nampan besar berisi dua wadah nasi beserta tumpukan daging-daging mentah diatasnya. “Douzo!”, ucapnya sambil meletakkan wadah makanan tepat di depanku.

Oldy Posty2: totoro no lalo

Suatu saat Lalo berlari kencang.....derap langkahnya pun berseling sengal nafas beratnya. Braaak.....kakinya pun menghantam bongkahan besar di hadapannya..."batu SIALAN!!! Mau apa kau rintangi jalanku????", pekiknya. Dipandanginya telapak kaki yang sepertinya menganga dan dipenuhi cairan merah berbau amis..."BENAR-BENAR SIAL!!!"

"Ma, kemana anak itu?", tanya Pak Gondo pada istrinya sambil menyisir kerah bajunya kebawah. "Sebentar Pa, Mama bantu rapihkan, tak perlu tergesa begitu, ini masih juga pukul tujuh", ujar Marlina sambil merangkulkan kedua tangannya merapihkan sisi kerah baju suaminya itu..., "Sudah! Aku tak akan menunggu lagi, tak enak hati Papa pada Pak Bos, sudah bagus masih diberi kesempatan! Sudah, Papa berangkat sekarang saja." cibir Pak Gondo kesal.

"Aduuuh, aaaw....siaaaalll....sakit sekali!!!" jerit Lalo. Tiba2 telinganya membiru, dan merayaplah sinar berupa guratan-guratan abstrak menyerupai kabel listrik kusut di sudut pipinya, "Iya Pak, iya...saya sudah berusaha untuk sampai tepat waktu, tapi kaki saya....Pak???....Pak!!!!", ujar Lalo memelas sambil menekan-nekan telinganya yang sudah tidak lagi membiru itu. "Apa salahku..." keluh Lalo lirih.

"Pa, tunggu sebentar lagi, anak itu tidak biasanya mengulur-ulur waktu, mungkin saja ada penghalang di jalan." Ujar Marlina menghibur sambil mengetukkan kedua jarinya ke bawah gelas kopi suaminya. Ujung-ujung jari itu mengeluarkan percikan api kecil berwarna keperakan. "Ini Pa, sudah mama hangatkan kembali kopi Papa, ayo...minumlah, akan sedikit melegakan." Pak Gondo yang kian muram wajahnya pun menyerah, ditepuknya maset kemejanya dan 'poooop'...lengan baju itu pun tergulung dengan sendirinya. Direguknya kopi hangat itu sambil sedikit tersenyum. "Masih belum ada yang mengalahkan kopimu Ma", rayu Pak Gondo pada istrinya. "Papa, kenapa sampai saati ini juga masih belum mau membeli kemeja kerah auto, kan itu bisa sedikit menghemat waktu Papa ketimbang harus menyisihkan 15 menit hanya untuk merapihkannya", timpal Marlina tulus."Mama tahu, Papa cuma percaya tangan mama yang merapihkan kerah baju ini, lengan auto sudah cukup sekali, Ma", senyum Pak Gondo.

GEDUBRAAAKKKK.....terdengar suara benda keras tertumbuk dari arah depan. Pak Gondo dengan sigap membuka pintu dan memandangi teras rumahnya dengan mulut ternganga."A.....a...anak itu!!!!" teriak Pak Gondo tergagap. Wajah Marlina pun memucat....pasi layaknya tak dialiri darah...pupil matanya membesar dan mulai mengeluarkan sulur-sulur putih halus yang tak lama menutupi seluruh matanya. "Ma!!! Jangan sekarang...Papa butuh bantuan untuk menolong anak itu....Ma...!!" jerit Pak Gondo memelas.

Namun Marlina tak bergeming, tubuhnya mulai mengeluarkan kar-akar berwarna coklat kehijauan,jauh menembus bajunya yang kini mulai tercerai berai, kulitnya pun mengeras sekeras besi. Akar-akar coklat kehijauan itu pun mulai menyelimuti tubuh mungil Marlina , bersinar dan mengkristal...dingin...membeku.

Lalo masih memegangi kakinya yang kini mulai menunjukkan tanda-tanda membaik. Lukanya mulai tertutup sedikit demi sedikit."Syukurlah...gen ibuku memang selalu membawa keberuntungan", ujar Lalo lega. Ditatihnya kaki kanannya yang terluka dan mempercayakan si kaki kiri untuk bekerja. Sesekali ia berhenti, ditiupinya luka itu, dan kembali seperti memiliki perekat otomatis...luka itu pun mengecil.

Belum jauh langkahnya berayun, kembali telinganya mengalami gejala yang tak kalah mengerikan...membiru...namun kali ini guratannya berwana ungu gelap...namun tak bercahaya. "Ya Pak, saya sudah berusaha semampu saya, tapi kaki saya terluka parah" timpal Lalo buru-buru. "Saya tahu kali ini saya sangat terlambat tapi...Ma...Ma...Marlina?" sejenak Lalo merasakan seluruh tubuhnya bergetar mendengar nama itu. "Bapak yakin tidak salah melihat barcode nya? Mungkin ada kesalahan program register? Pasti keliru! Saya yakin, tunggu jangan beritahukan apapun pada Dewan sebelum saya tiba!!"

Lalo pun menggesitkan langkahnya, sambil...entah...berfikir atau menangis. Disentuhnya pintu besi dengan tangan kirinya yang bersimbah darah...keluarlah sulur halus biru dari ujung-ujung jarinya. Pintu itu pun terbuka lebar. "Siapkan prosedur utamanya!" perintah Lalo sedikit terpekik. Anehnya beberapa mahluk kecil pun mulai bermunculan dan berlompatan entah dari mana dan bergerak gesit kesana kemari mengelilingi Lalo. Sekejap Lalo pun nampak seperti astronot hijau lengkap dengan helm pelindung dan sarung tangan di tangannya. Mahluk-mahluk kecil tadi pun tak nampak lagi.

Lagi...disentuhnya pintu padat terbuat dari besi yang ada di hadapannya, kali ini warnanya jauh lebih gelap, dan yang keluar dari ujung jarinya berwarna oranye pekat. "Kita akan lakukan prosedur utama ulang Pak! Saya sudah si...", "Tak perlu Nak, saya tahu perasaanmu, tapi kami yakin sekali, dia Marlina" potong Marui tegas. Ia dan ketiga pria lainnya pun membuka helem pelindung mereka. Ditepuknya bahun Lalo yang terpekur lunglai di atas sebuah meja yang mirip sekali meja operasi, "Saya akan bicara dengan keluarganya".

Lalo menggenggam tangannya dengan keras, ototnya pun menonjol keluar seperti sekumpulan ular yang sedang berkoloni. Namun yang mengerikan otot itu tak berwarna biru, warnanya hitam....

"Gondo..." ujar Marui tegas sambil merenggut bahu Pak Gondo. "Pak Bos...saya...saya benar-benar tidak tahu...saya sedang menunggu Inoe ketika itu...dan...dan...yang saya lihat...mayatnya tergeletak di depan teras saya...dan...dan...Marlina..", Pak Gondo tak mampu lagi meneruskan kalimatnya. "Itu memang tugasnya, Gondo. Menggantikan kehidupan yang terenggut. Ini Inoe?" tanya Marui menoleh dengan senyuman tersungging di bibirnya. "Saya Inoe, benar sekali, Pak". "bagaimana kejadiannya, Inoe?" tanya Marui tenang.

"Saya sedang dalam perjalanan ke rumah Pak Gondo. Saya sudah berjanji untuk sampai di rumah beliau sebelum pukul 7.30. Tentunya untuk memenuhi janji kami bertemu Ma...maaf...Pak Bos..", "Tak apa , Nak" Marui memotong menegaskan. "Panggil saja Marui, sebuah kebanggaan bagi kaum kami untuk sampai di Totoro ini untuk membangun kembali peradaban kita bersama dan ditempatkan sebagai yang dihormati. Lanjutkan, Nak!" Marui mempersilahkan.

"Iya, Marui, Pak Gondo yang telah berjanji menemani saya untuk wawancara ulang atas proposal saya untuk menjadi tenaga magang di totoro ini. Waktu itu masih pukul 07.00 dan Pak Gondo yang sangat gelisah tak henti-hentinya menyulut simulasi-kejut-frontal kepada saya, sehingga saya tak henti-hentinya terlompat kaget. 100 meter dari...oh maaf..900 mocre dari rumah Pak Gondo saya mendapati kaki saya menginjak ini....", Inoe merogoh sakunya yang menggelembung dan mengeluarkan sebuah benda kotak berwarna hitam mirip......telefon genggam.

"Ini kan...!!!??", jerit Marui terpaku. "Ya Marui, itu adalah telefon genggam produksi akhir Tahun 2009 waktu Bumi, lebih dikenal dengan sebutan Smartphone...Saya segera mengenalinya, karena kakek buyut saya memilikinya dan mendokumentasikan artifak tenknologi ini dengan baik di rumah kami, Marui."
"Oh, jadi benda ini yang sering mengirimkan informasi tentang BUMI terhadap kami."ujar Marui separuh berhayal. "Ketika saya memungutnya, keluarlah frekuensi yang sangat memekakkan telinga saya dan seketika saya pun tidak ingat apa-apa lagi", papar Inoe menyelesaikan ceritanya.

"Hm...lalu Gondo, apakah benar kau melihat seluruh transformasi Marlina?", tanya Marui berpaling ke arah Pak Gondo. "Iya, saya rasa begitu, Pak. Ia ternganga melihat mayat Inoe tertancap di depan pelindung rumah kami yang rusak. Mata...", "Tunggu! Pelindung lembam rumah kalian bisa sampai rusak?", potong Marui keheranan. "Iya pak..pelindung rumah kami mendadak terburai menjadi pecahan-pecahan kristal tajam dan Inoe tertancap di salah satu pecahan besar tepat di depan pintu. Marlina terpaku, matanya terbelalak ngeri, pupil matanya melebar, mengeluarkan sulur putih. Sekujur tubuhnya mengeluarkan akar hijau kecoklatan dan...dan...dia...", Pak Gondo pun meledakkan tangisnya.

"Sudah Gondo, pilihan yang ada hanya sabar dan tabah. Bolehkah memorimu saya gandakan untuk telaah kami?", tanya Marui. Pak Gondo pun mengangguk lemah. "Dengan berpegang pada Keputusan Kongres Dewan, maka Saya, Marui, Nomer Register MND-0101010101, menyatakan memori Gondo, keturunan ke-3 spesies manusia ras Asia, pada Hari ini, hari ke 37 dari revolusi Totoro ke 135 pukul 07.00-07.30 dicatat sebagai bukti Pusat Penelitian Totoro", suara Marui pun menggelegar ke setiap sudut ruangan.

Ditepukkannya ujung ibu jarinya kanannya ke sudut luar mata dan ujung jari telunjuk kanannya pada ubun-ubun Pak Gondo. Semburat warna biru hitam pun menghubungkan kedua jari Marui tadi. Sejenak Marui menoleh ke arah 3 orang dibelakangnya yang entah sejak kapan berdiri mematung disitu. Sejenak prag-orang itu berbisik-bisik dan kemudian sepertinya sepakat dan mengangguk ke arah Marui.

Marui membuka telapak tangan kirinya dan...PLOOOP!! Keluarlah sebuah poros beserta piring pijakannya yang bersinar terang nyaris tak memiliki warna. Perlahan diangkatnya kedua jari tangan kirinya dari kepala Pak Gondo dan diletakkanya semburat biru hitam tadi pada poros bersinar itu. "Emosi negatif memang selalu tidak menolong", hembus Marui perlahan sambil menarik cahaya gelap dari semburat biru hitam itu.

bersambung...

Oldy Posty...1 : Palsu

Menjelang pagi beranda belakang rumah Romla selalu diramaikan derit Mesin tenun tua yang tak pernah lalai digelutinya. Tak sulit mencuri bayang paras muda ayunya disela wajah keriput berpeluh itu. Sesekali jemari runcingnya mengusap kening diiringi keluh yang memaksanya meraih teko teh dihadapannya. "Sudah hampir pagi lagi...", ujarnya pelan. Terdengar decit langkah kaki, Romla menoleh dan berteriak, "Hei!! Siapa di situ!! Pergi!! Atau kugigit kalian!" seringainya.

"Hantu!!! Aku yakin itu hantu...taukah kamu dia itu hantu?"sengal Kober. "Ah..kau ini, mana mungkin nenek tua itu hantu, lihat saja kakinya, tanah pun masih diinjaknya, tak masuk mi di akal!" timpal Mopu kesal. "Kalau tak lari kencang sudah habis kita dimakannya!" teriak Kober, "tak kaulihat gigi2 tajamnya itu? Habis leher kita digigitnya nanti!"

Romla terkikik mendengar langkah2 kecil itu berlalu tergopoh. Diambilnya teko teh tadi, "Aah, pagi!" senyumnya pun tersungging di bibir keriputnya. Dirapihkannya sejumput rambut yang terjuntai kasar di pelipisnya, disatukan dengan gelungan konde cepol mungil di belakang lehernya. Selesai mematut diri, Romla melangkah ke arah pintu depan dan beranjak ke jalan setapak kecil disamping rumah reotnya.

Langit masih muram ketika Romla melewati serumpun bunga tai ayam yang tak pernah disukainya itu. Tegap langkahnya melewati jalan mungil berkelok2 itu.

"Assalamu'alaikum Pu-Nilla, bisa mi kita masuk?" seru Romla parau. "wa'alaikumsalam, ooh...Ndi' Romla rupanya, mari ki' masuk!" jawab wanita muda berparas manis sambil membukakan daun pintu kayu besi yang mulai lapuk. "Sudah lama ji? Maaf, tadi baru saja ka pergi ke kebun sebelah, kasian je' pohon2 pisang disana, ndak ada orang pergi siram, cuma kita saja Ndi", sapa Nilla ramah sambil menyodorkan air putih hangat kepada Romla. "ndak apa2 ji Pu-Nilla, kita ini merepotkan sekali", sambut Romla sambil sedikit tersipu.

"oiya, kita' bawa ji sikat gigi?", tanya Nilla menyela tegukan Romla yang ketiga. "tentu je' bawa Puang, ndak pi lupa!", sahut Romla sambil menusukkan jari2 runcingnya ke dalam kemben hitam kusam miliknya, dan dikeluarkanlah plastik hitam yang tak kalah kumalnya. "Bagus Ndi, kita mulai saja sekarang?"

"aduh...!" sedu Romla. "Sakitkah Ndi? Terlalu kencang ya?" tanya Nilla penuh kawatir "maaf kalau kita stel agak keras, karna kita takut nanti lepas kalo Ndi Romla sedang kunyah biji kopi, tapi lebih bagus lagi kalo berhenti pi kunyah kopi barang 1 minggu Ndi..." nasihat Nilla.

"iye, berhenti ka kunyah kopi seminggu, tapi sudah benar mi posisinya? Begini pasangnya?" ujar Romla separuh terperangah melihat gigi barunya. "iiih...cantiknya di gigi baruku, terimakasih sekali Ibu dokter Nilla, ndak tau ka' harus balas bagaima...", "kita iklas ji Ndi, kita cuma mau tolong tetangga-ta yang ndak pernah lupa gilingkan biji kopi teman-ta belajar waktu mau masuk pendidikan kedokteran, Kita yang bingung harus balas bagaimana...Ndi Romla baik sekali ji." kalimat Nilla terputus oleh segumpal beban yang mengalir lewat nafas beratnya, "Kita ndak punya siapa2 Ndi, cuma Ndi Romla yang urus kita sejak Indok-Ambok(ayah-Ibu)-ta' meninggal."
Romla terdiam dan menggenggam keras jemari Nilla.

"ah, sudah ji, ndak usah diingat lagi Ndi," potong Nilla."....kalau boleh kita tau, kenapa Ndi Romla pakai gigi palsu yang runcing2 begitu, ndak heran mi anak2 kecil takut!" seru Nilla tersenyum kecil.
"ahaha...ndak, dulu waktu ambo mu masih hidup, selalu ta dibuatkan gigi palsu, diganti pi tiap 2 tahun, sementara, kita suka sekali kunyah biji kopi, sakit kepala-ta lewat sehari ndak kunyah biji kopi. Itu hari, kita satu mobil dengan ambomu, terguling mi mobil-ta, terbentur batu pi dagu-ta, habis ji gigi palsu-ta, rusak, tinggal mi yang runcing-runcing, mau ji lepas gigi-ta, tapi mau diapa biji kopi-ta tanpa gigi" papar Romla makin tersipu.

Mereka bertukar kata dan tersenyum diselanya. Sesekali Nilla mengisi-ulang gelas Romla yang seperti tak pernah bosan diteguknya.
"Sudah sore PuNilla, pulang ta dulu, oh..ada pi sedikit hasil kebun-ta, ini...teman-ta belajar tengah malam Nak.", ujar Romla sambir menyodorkan kantung gandum lusuh ke tangan Nilla.

Berkaca2 mata bulat Nilla sambil melepas kepulangan Romla. Matahari sore menyapu jejak tegap Romla. Tak dilihatnya lagi kaki-kaki kokoh itu. "Romla, si Hantu Gigi Runcing sudah punya Gigi Indah sekarang." bisik Nilla pada dirinya sendiri.

Latihan SATUk: Mencari Sumber Cerita FIksi dari sebuah kejadian

Inspirasiku berasal dari kunjunganku minggu lalu ke Jakarta, di Plaza Indonesia, tepatnya di sebuah foodcourt yang menurutku agak sembribit karena aku dan temanku menggigil kedinginan disitu. Tak jauh dari meja kami ada sekelempok pria (3 pria) bersama seorang wanita sedang berbincang hangat dan sesekali melirikku dengan 'seram'. Aku pun berfikir apa kesalahanku sehingga orang tersebut memandangiku dengan sangat mengerikan. Maka kujadikan pengalaman singkat itu menjadi Latihan pertamaku, so......Read and Enjoy!



“Dua coklat panas kental, satu tanpa cinnamons, satu tanpa gula.” ujarku buru-buru tanpa menunggu tawaran dari penjaga counter kafe coklat yang berjarak 3 blok dari rumahku. SI penjaga pun tersenyum manis sambil memberikan nomer meja kesayangan kami, 13. Binar, sepupu jauh yang pada kenyataannya dekat itu pun mencubit pipiku, “Na, aku selalu merindukan jalan-jalan seperti ini terutama saat kita jauh!”. “Iya…ayo duduk, kakiku sudah lelah” jawabku sedikit tak peduli.

“Lama aku tak ke sini Na, um…5 ta….”, “Empat tahun enam bulan dan 41 hari tepatnya, Nar” sahutku tak sabar, Binar pun menatapku kagum bercampur heran. Ia terus mengocehkan tentang pacar ataupun kenalan prianya di Amsterdam, tempatnya kuliah sekarang. Sedikit bosan, aku pun terdiam dan sedikit melamun. Kupandangi semua interior kafe itu. Meja-mejanya yang lusuh, lukisan dan foto-foto kuno yang selalu kusukai pun masih belum bergeser dari posisinya.

Dua meja dariku, duduk seorang pria berkepala botak. Dia memandangiku lugas. Tak terbersit sedikitpun kepura-puraan. Disingkirkannya cangkir kopi yang hampir kosong itu. Dia berdiri dan melakukan gerakan yang jika diartikan seperti ingin mendekatiku. Tapi tunggu, teman wanitanya menarik lengannya. Berpaling dari wajah pria tadi, aku memandangi jemari si teman wanita itu. Jarinya sekilas Nampak lentik, namun jika kuperhatikan, Nampak guratan-guratan otot yang menonjol, “Seperti jari-bengkel-ayahku”, bisikku. Hm, tapi lebih nampak seperti jari koki kesayanganku.

Pria itu menoleh pada si teman wanita, dan menunjuk-nunjuk ke arahku sambil mengerenyitkan dahinya. Si teman wanita pun jadi ikut menoleh padaku. Dadaku meletup-letup, ada apa gerangan? Di kepalaku pun berputar-putar sejuta alasan untuk memberi jawaban atas perilaku mereka berdua yang bahkan aku pun tak tahu siapa mereka.

Si teman wanita berhenti memandangiku dan tersenyum pada pria itu sambil mengangguk. Keringatku benar-benar menetes deras. Kugenggam erat jari-jariku—ini yang selalu kulakukan untuk mengusir rasa takut— dan merasakan tubuhku gemetar hebat. Binar menepuk bahuku sangat kencang dan sesaat kurasakan kaget luar biasa. “Kau ini!” Binar terkekeh. “Kamu kenapa? Masih menghayalkan rambut panjangmu yang jatuh ke tanah itu? Ah, tak masalah itu, nanti juga tumbuh lagi, Na!” ujar Binar. “Bu…bukan….o…orang itu…” jawabku terbata-bata. “Ah, kapster di salon memang selalu begitu Na, kau masih ingat tidak yang selalu dikatakan kakek kita dulu? Rambut itu perpanjangan otak, harus disayang dan dimanjakan!”

“Orang itu Nar! Keduanya memandangiku…seperti..”, aku menimpali tanpa peduli apapun yang diucapkan Binar. “GENA!!! Banguuuuuuuuuuuuuuuun!!! Kau ini kenapa!!” Binar maju ke hadapanku dan mengguncang-guncangkan tubuhku layaknya celengan babi kecil miliknya yang selalu ia ganggu setiap akhir minggu. “Minggir….” Aku menepis kedua tangannya untuk kembali melihat kedua orang tadi. Tapi mereka sudah pergi. Meja itu sudah kosong. Hanya tersisa puntung rokok yang masih mengepul-ngepul dan dua cangkir yang berjajar tidak rapi.

Aku berdiri melongok kanan-kiri untuk mencari kalau-kalau mereka masih ada disekitar kafe itu. Tapi mereka benar-benar sudah hilang.