Menjelang pagi beranda belakang rumah Romla selalu diramaikan derit Mesin tenun tua yang tak pernah lalai digelutinya. Tak sulit mencuri bayang paras muda ayunya disela wajah keriput berpeluh itu. Sesekali jemari runcingnya mengusap kening diiringi keluh yang memaksanya meraih teko teh dihadapannya. "Sudah hampir pagi lagi...", ujarnya pelan. Terdengar decit langkah kaki, Romla menoleh dan berteriak, "Hei!! Siapa di situ!! Pergi!! Atau kugigit kalian!" seringainya.
"Hantu!!! Aku yakin itu hantu...taukah kamu dia itu hantu?"sengal Kober. "Ah..kau ini, mana mungkin nenek tua itu hantu, lihat saja kakinya, tanah pun masih diinjaknya, tak masuk mi di akal!" timpal Mopu kesal. "Kalau tak lari kencang sudah habis kita dimakannya!" teriak Kober, "tak kaulihat gigi2 tajamnya itu? Habis leher kita digigitnya nanti!"
Romla terkikik mendengar langkah2 kecil itu berlalu tergopoh. Diambilnya teko teh tadi, "Aah, pagi!" senyumnya pun tersungging di bibir keriputnya. Dirapihkannya sejumput rambut yang terjuntai kasar di pelipisnya, disatukan dengan gelungan konde cepol mungil di belakang lehernya. Selesai mematut diri, Romla melangkah ke arah pintu depan dan beranjak ke jalan setapak kecil disamping rumah reotnya.
Langit masih muram ketika Romla melewati serumpun bunga tai ayam yang tak pernah disukainya itu. Tegap langkahnya melewati jalan mungil berkelok2 itu.
"Assalamu'alaikum Pu-Nilla, bisa mi kita masuk?" seru Romla parau. "wa'alaikumsalam, ooh...Ndi' Romla rupanya, mari ki' masuk!" jawab wanita muda berparas manis sambil membukakan daun pintu kayu besi yang mulai lapuk. "Sudah lama ji? Maaf, tadi baru saja ka pergi ke kebun sebelah, kasian je' pohon2 pisang disana, ndak ada orang pergi siram, cuma kita saja Ndi", sapa Nilla ramah sambil menyodorkan air putih hangat kepada Romla. "ndak apa2 ji Pu-Nilla, kita ini merepotkan sekali", sambut Romla sambil sedikit tersipu.
"oiya, kita' bawa ji sikat gigi?", tanya Nilla menyela tegukan Romla yang ketiga. "tentu je' bawa Puang, ndak pi lupa!", sahut Romla sambil menusukkan jari2 runcingnya ke dalam kemben hitam kusam miliknya, dan dikeluarkanlah plastik hitam yang tak kalah kumalnya. "Bagus Ndi, kita mulai saja sekarang?"
"aduh...!" sedu Romla. "Sakitkah Ndi? Terlalu kencang ya?" tanya Nilla penuh kawatir "maaf kalau kita stel agak keras, karna kita takut nanti lepas kalo Ndi Romla sedang kunyah biji kopi, tapi lebih bagus lagi kalo berhenti pi kunyah kopi barang 1 minggu Ndi..." nasihat Nilla.
"iye, berhenti ka kunyah kopi seminggu, tapi sudah benar mi posisinya? Begini pasangnya?" ujar Romla separuh terperangah melihat gigi barunya. "iiih...cantiknya di gigi baruku, terimakasih sekali Ibu dokter Nilla, ndak tau ka' harus balas bagaima...", "kita iklas ji Ndi, kita cuma mau tolong tetangga-ta yang ndak pernah lupa gilingkan biji kopi teman-ta belajar waktu mau masuk pendidikan kedokteran, Kita yang bingung harus balas bagaimana...Ndi Romla baik sekali ji." kalimat Nilla terputus oleh segumpal beban yang mengalir lewat nafas beratnya, "Kita ndak punya siapa2 Ndi, cuma Ndi Romla yang urus kita sejak Indok-Ambok(ayah-Ibu)-ta' meninggal."
Romla terdiam dan menggenggam keras jemari Nilla.
"ah, sudah ji, ndak usah diingat lagi Ndi," potong Nilla."....kalau boleh kita tau, kenapa Ndi Romla pakai gigi palsu yang runcing2 begitu, ndak heran mi anak2 kecil takut!" seru Nilla tersenyum kecil.
"ahaha...ndak, dulu waktu ambo mu masih hidup, selalu ta dibuatkan gigi palsu, diganti pi tiap 2 tahun, sementara, kita suka sekali kunyah biji kopi, sakit kepala-ta lewat sehari ndak kunyah biji kopi. Itu hari, kita satu mobil dengan ambomu, terguling mi mobil-ta, terbentur batu pi dagu-ta, habis ji gigi palsu-ta, rusak, tinggal mi yang runcing-runcing, mau ji lepas gigi-ta, tapi mau diapa biji kopi-ta tanpa gigi" papar Romla makin tersipu.
Mereka bertukar kata dan tersenyum diselanya. Sesekali Nilla mengisi-ulang gelas Romla yang seperti tak pernah bosan diteguknya.
"Sudah sore PuNilla, pulang ta dulu, oh..ada pi sedikit hasil kebun-ta, ini...teman-ta belajar tengah malam Nak.", ujar Romla sambir menyodorkan kantung gandum lusuh ke tangan Nilla.
Berkaca2 mata bulat Nilla sambil melepas kepulangan Romla. Matahari sore menyapu jejak tegap Romla. Tak dilihatnya lagi kaki-kaki kokoh itu. "Romla, si Hantu Gigi Runcing sudah punya Gigi Indah sekarang." bisik Nilla pada dirinya sendiri.
Thursday, 1 April 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment