Thursday, 1 April 2010

Latihan DUAk: mencari sumber cerita fiksi dari pengamatan sederhana

Inspirasi untuk latihan kedua ini kuambil masih dari tempat yang sama dengan Latihan1. Berlawanan arah dengan arah pandanganku pada latihan pertama, kali ini aku menoleh ke kanan. Dihadapanku ada dua orang yang seperti kakak adik sedang memesan sushi. Kulihat adiknya menurut saja pada kakaknya yang dengan cekatan memilihkan menu menuruti seleranya kepada si pelayan yang kemudian mengantarkan makanan itu dengan perilaku-mirip-orang-Jepang. Si adik pun terlihat sedikit tertekan memandangi piringnya yang dipenuhi daging mentah (sushi). Again…please read and enjoy!


Aku berderap lalu-lalang dihadapan sebuah papan reklame bertuliskan “Sushimu Setiap Saat”. Sesekali aku menjuntaikan kepalaku ke arah jalan, dan kuimbangi dengan lirikan kea rah jam tanganku. “Wiga terlambat …..lagi!” Aku lalu bersandar pada dinding restoran itu. Punggungku membeku, seperti lengket pada batu bata merah yang tersusun rapih itu.


Bruuuk….terdengar suara keras dari arah jalan. Semua orang pun menoleh ke arah itu. “Wiga!! Kamu kenapa?”, jeritku sesak setengah berlari. Aku membantunya berdiri. “Tak apa kok, Ka, rodanya rusak sedikit. Besok aku akan membawanya ke tukang reparasi.” Sapa Wiga gemetaran. “ Maaf, kau lagi-lagi menunggu yah? Um..balasannya kutraktir 1 putaran Sushi-Bang untukmu!” timpalnya cepat. “Tapi autopad-mu?”, jawabku sambil mengangkat autopad kesayangan Wiga itu. “Tinggalkan saja di luar Ka, tak ada yang akan mengambilnya. Yuk, aku lapar!”, ajak Wiga dengan penuh semangat.


“Irasshaimasse!”, ujar pelayan yang bertengger di depan pintu dan memandangi kami dengan sedikit takjub. “Ya…bien sur! Ahahahhaha!”, jawab Wiga sembarang sembari mendorong punggungku mengingatkan untuk membalas salam kehormatan khas orang Jepang itu. Kami dihantarkan masuk lebih dalam ke sebuah ruangan yang remang-remang. Cahaya yang terlihat sekedar ambient dari lampu yang disembunyikan di balik plafond. Melihat cantiknya langit-langit itu, aku pun tertarik untuk melihat ke lantai. Dan, wow, lantainya diberi taburan kerikil yang diatur selayaknya taman khas Jepang. Aku pun tak bisa membayangkan wajah si kontraktor ketika melihat rincian biaya yang harus dikeluarkannya untuk mem-finishing restoran yang terilang tak terlalu besar itu.


“Hey, apa yang kau lakukan disitu, Meika. Kerjamu hanya memandangi dan mengetuk-ngetuk material saja. Dasar arsitek!” ujarnya gusar sambil menyeret tangan kiriku untuk masuk ke bilik makan kami. Bilik itu cukup nyaman, besarnya kemungkinan sebesar toilet standart, ada tempat duduk berlapis tatami disitu. “Hentikan pandangan-resah-material mu itu, Ka! Ayo kita makan!”


Chirashizushi 2 ya” ujar Wiga pada pelayan yang tiba-tiba saja sudah berdiri di dekatku. “Haik!” jawab pelayan itu dengan sangat bersemangat. “Kurasa aku ingin mencoba Ebifurai-Maki setelah ini”, usulku malu-malu. “Um…iya…nanti…” jawab Wiga tak yakin. Pelayan yang kami tunggu selama 20 menit pun akhirnya dating membawa nampan besar berisi dua wadah nasi beserta tumpukan daging-daging mentah diatasnya. “Douzo!”, ucapnya sambil meletakkan wadah makanan tepat di depanku.

2 comments:

  1. paragraphmu kepanjangan bu. capek matanya. hehehe

    keep writing, keep inspiring ;)

    ReplyDelete
  2. Lupak di pisah2....maapkeun...TT.TT

    ReplyDelete