Inspirasiku berasal dari kunjunganku minggu lalu ke Jakarta, di Plaza Indonesia, tepatnya di sebuah foodcourt yang menurutku agak sembribit karena aku dan temanku menggigil kedinginan disitu. Tak jauh dari meja kami ada sekelempok pria (3 pria) bersama seorang wanita sedang berbincang hangat dan sesekali melirikku dengan 'seram'. Aku pun berfikir apa kesalahanku sehingga orang tersebut memandangiku dengan sangat mengerikan. Maka kujadikan pengalaman singkat itu menjadi Latihan pertamaku, so......Read and Enjoy!
“Dua coklat panas kental, satu tanpa cinnamons, satu tanpa gula.” ujarku buru-buru tanpa menunggu tawaran dari penjaga counter kafe coklat yang berjarak 3 blok dari rumahku. SI penjaga pun tersenyum manis sambil memberikan nomer meja kesayangan kami, 13. Binar, sepupu jauh yang pada kenyataannya dekat itu pun mencubit pipiku, “Na, aku selalu merindukan jalan-jalan seperti ini terutama saat kita jauh!”. “Iya…ayo duduk, kakiku sudah lelah” jawabku sedikit tak peduli.
“Lama aku tak ke sini Na, um…5 ta….”, “Empat tahun enam bulan dan 41 hari tepatnya, Nar” sahutku tak sabar, Binar pun menatapku kagum bercampur heran. Ia terus mengocehkan tentang pacar ataupun kenalan prianya di Amsterdam, tempatnya kuliah sekarang. Sedikit bosan, aku pun terdiam dan sedikit melamun. Kupandangi semua interior kafe itu. Meja-mejanya yang lusuh, lukisan dan foto-foto kuno yang selalu kusukai pun masih belum bergeser dari posisinya.
Dua meja dariku, duduk seorang pria berkepala botak. Dia memandangiku lugas. Tak terbersit sedikitpun kepura-puraan. Disingkirkannya cangkir kopi yang hampir kosong itu. Dia berdiri dan melakukan gerakan yang jika diartikan seperti ingin mendekatiku. Tapi tunggu, teman wanitanya menarik lengannya. Berpaling dari wajah pria tadi, aku memandangi jemari si teman wanita itu. Jarinya sekilas Nampak lentik, namun jika kuperhatikan, Nampak guratan-guratan otot yang menonjol, “Seperti jari-bengkel-ayahku”, bisikku. Hm, tapi lebih nampak seperti jari koki kesayanganku.
Pria itu menoleh pada si teman wanita, dan menunjuk-nunjuk ke arahku sambil mengerenyitkan dahinya. Si teman wanita pun jadi ikut menoleh padaku. Dadaku meletup-letup, ada apa gerangan? Di kepalaku pun berputar-putar sejuta alasan untuk memberi jawaban atas perilaku mereka berdua yang bahkan aku pun tak tahu siapa mereka.
Si teman wanita berhenti memandangiku dan tersenyum pada pria itu sambil mengangguk. Keringatku benar-benar menetes deras. Kugenggam erat jari-jariku—ini yang selalu kulakukan untuk mengusir rasa takut— dan merasakan tubuhku gemetar hebat. Binar menepuk bahuku sangat kencang dan sesaat kurasakan kaget luar biasa. “Kau ini!” Binar terkekeh. “Kamu kenapa? Masih menghayalkan rambut panjangmu yang jatuh ke tanah itu? Ah, tak masalah itu, nanti juga tumbuh lagi, Na!” ujar Binar. “Bu…bukan….o…orang itu…” jawabku terbata-bata. “Ah, kapster di salon memang selalu begitu Na, kau masih ingat tidak yang selalu dikatakan kakek kita dulu? Rambut itu perpanjangan otak, harus disayang dan dimanjakan!”
“Orang itu Nar! Keduanya memandangiku…seperti..”, aku menimpali tanpa peduli apapun yang diucapkan Binar. “GENA!!! Banguuuuuuuuuuuuuuuun!!! Kau ini kenapa!!” Binar maju ke hadapanku dan mengguncang-guncangkan tubuhku layaknya celengan babi kecil miliknya yang selalu ia ganggu setiap akhir minggu. “Minggir….” Aku menepis kedua tangannya untuk kembali melihat kedua orang tadi. Tapi mereka sudah pergi. Meja itu sudah kosong. Hanya tersisa puntung rokok yang masih mengepul-ngepul dan dua cangkir yang berjajar tidak rapi.
Aku berdiri melongok kanan-kiri untuk mencari kalau-kalau mereka masih ada disekitar kafe itu. Tapi mereka benar-benar sudah hilang.
Thursday, 1 April 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
aku masih gak ngerti, apa yang kamu mau sampaikan dalam cerita sangat pendek ini? ^^v
ReplyDeleteum...Mr. Josip menyuruhku membuat adegan spanjang 1 halaman dari sebuah kejadian singkat; terutama di tempat umum, restoran, kafe, dsb. Ya, adegan singkat yang rekamannya masih utuh di ingatanku yang jadi inspirasi...ehehehehe...
ReplyDelete